Cara Pandang Positife

Menyadari masalah serta mengenali pemecahanya . . . . .

YUI

Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat di atasi

YUI

Melihat yang negatif tapi menekankan yang positife

YUI

Menghadapi yang terburuk tapi mengharapkan yang terbaik

YUI

Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum

About

Jumat, 22 Juni 2012

Belajar Bahasa Jepang 1

Belajar Bahasa Jepang 1


Kosa Kata :

watashi (saya)
anata (kamu)
kanojo (dia perempuan)
kare (dia laki2)
kono enpitsu (pensil ini)
gakusei (siswa)
byooki (sakit)
isha (dokter)
hitotsu (satu buah)
dare (siapa)

Tata Bahasa :

" ~ wa ~ desu "

Untuk menguasai bahasa Jepang, pertama kali yang harus kita pahami adalah :

1. Apakah kalimat mempunya kata kerja atau tidak, kalau punya, maka kata kerja dalam bahasa Jepang selalu diletakkan di akhir kalimat. kalau tidak ada kata kerjanya, maka kalimat akan diakhiri 'desu'

Contoh kalimat yang tidak mempunya kata kerja (untuk mempermudah, dicampur dengan bahasa Indonesia dulu)

1. Saya siswa desu
2.
Dia(laki2) sakit desu

Kedua kalimat tidak ada kata kerjanya, maka diakhiri desu. Kata desu tidak ada artinya dalam bahasa Indoensia.

2. Pahami bahwa setelah subjek selalu diikuti ' wa '. Subjek bisa berupa topik kalimat atau pokok kalimat.Contoh :
1. Saya wa siswa desu
2. Dia(laki2) wa sakit desu

Kata 'saya' dan 'dia' adalah subjek, maka diikuti ' wa ' yang dalam tata bahasa Jepang sering disebut partikel. Partikel tidak memiliki arti, tapi kadang2 mirip dengan kata ' adalah '.

Kedua kalimat diatas, jika di-Jepang-kan menjadi :

1. Watashi wa gakusei desu
2. Kare wa byooki desu
Contoh lain :

1. Anata wa isha desu
(Kamu dokter)

2. Kanojo wa Deva san desu
(Dia(perempuan) nona Deva)

3. Kono enpitsu wa hitotsu desu
(Pensil ini satu buah)

Jika ingin dirubah menjadi kalimat negatif, kata ' desu ' diganti dengan ' ja arimasen '

Contoh :

1. Anata wa isha ja arimasen
(Kamu bukan dokter)

2. Kono enpitsu wa hitotsu ja arimasen
(Pensil ini bukan satu buah)

3. Kare wa byooki ja arimasen
(Dia tidak sakit)


Namun, jika ingin membentuk kalimat tanya, maka di akhir kalimat ditambah ' ka '

Contoh :

1. Anata wa gakusei desu ka ?
(Apakah kamu siswa?)

2. Kare wa byooki desu ka ?
(Apakah dia sakit?)

3. Kanojo wa dare desu ka ?
(Dia siapa?)

4. Anata wa isha ja arimasen ka ?
(Apakah kamu bukan dokter?)

Plesetan bhs jepang


 Plesetan Bahasa Jepang



  • Pencopet : Kuraba Sakumu
  • Calo: Sayabisa Urusi
  • Penari di tempat hiburan : Nikita Sukanar
  • Cewek penghibur : Samakami Sampepagi
  • Sales door to door :Takasi Kamucoba
  • Rumah kontrakan : Kosewa Rumaku
  • Tawar-menawar harga : Kitakasi Murasaja
  • Pemabuk :Minumi Kabeh
  • Cewek penggoda : Itumu Akuraba
  • Kasir : Yukasi Kitaterima
  • Preman : Akusu kaTakuti
  • Tukang Makeup : Mukamu Sayabe daki
  • Tukang Cukur : Sini Takupotongi
  • Pengangguran : Takada Gaji
  • Foto Model : Aigaya Sanasini
  • Model Porno : Kitabuka Kamupoto
  • Pengawas Pajak : Yukira Kitaawasi
  • 36 B : Aisuka Susumu
  • Dokter Penyakit Kelamin : Kuo bati Anumu
  • Tukang Cuci : Kusa buni Itunoda
  • Tukang Sate : Satemura Hallalne
  • Penjual Keramik : Disini Adaguchi
  • Artis Cilik : Masimuda Masutipi


From Forum

Sabtu, 16 Juni 2012

YUI - Fight Lyrics

YUI - Fight Lyrics 

 Lagu YUI ini satu ini menjadi lagu tentang pendidikan di NHK. Kesan pertama waktu ngedengerin lagu ini seperti lagu nasional. Pertama denger lagunya dinyanyiin sama sekelompok murid vokal sih. hehehe...
Tapi, ketika denger YUI yang nyanyi lag ini, waah,. . . .  . Tapi yang pasti lagu ini memang keren banget. Apalagi pas reff-nya. Gue suka ...





Egaku yume ga subete kanau wake nado nai kedo
Bukannya aku ingin semua impianku terwujud

Anata datte wakatteiru hazu yo

Dan kau pun seharusnya tahu itu

Kowaresouna sora datte

Bahkan jika langit rapuh

Atashi wa ukeireru kara

Aku bisa menerimanya

Daijoubu yo, yasashii uso otona ni naritai

Tak apa, aku ingin menjadi orang dewasa yg ramah atas dusta

Ganbare ganbare inochi moyashite

Berjuanglah berjuanglah di hidup yg membara

Tsuzuku genjitsu ikiteyuku

Teruslah hidup dengan kenyataan

Ganbare ganbare kagiriaru hibi ni

Berjuanglah berjuanglah kau terus tiap hari

Hana wo sakaseru

Bunga akan bermekaran

Kibou no saki ni aru akogare ni te wo nobaseba

Jika kau punya tujuan yg hendak dituju raihlah tanganmu 'tuk kerinduan

Ashita datte te tesaguri mitsukeru yo

Bahkan esok aku akan meraba-raba 'tuk menemukanmu

Chiriyuku kara utsukushii to iu

Bertebaran dari yg indah

Imi ga wakattekita

Temukan maknanya

Gomen ne, mou sukoshi onona ni naru kara

Maaf ya, sebentar lagi aku akan menjadi dewasa

Ganbare ganbare kachimake datte

Berjuanglah berjuanglah menang atau kalah

Hontou wa daiji na koto nan da ne?

Sebenarnya yg paling penting itu apa sih?

Ganbare ganbare sousa jinsei wa hikikaesenai

Berjuanglah berjuanglah hidup takkan pernah kembali

Itsuka furikaeru toki

Jika kau lihat kebelakang

Kyou no wakakarishi hi ga

Masa muda hari ini

Kitto natsukashiku naru kara

Kau pasti akan merindukannya

Ganbare ganbare inochi moyashite

Berjuanglah berjuanglah di hidup yg membara

Tsuzuku genjitsu ikiteyuku

Teruslah hidup denghan kenyataan

Ganbare ganbare kagiriaru hibi ni

Berjuanglah berjuanglah kau terus tiap hari

Hana wo sakaseru ~Hana wo sakaseru

Bunga akan mekar ~Bunga akan mekar


Kupu-Kupu dan kehidupan


Seorang anak kecil bermain di taman rumahnya. Sampai akhirnya ia merasa lelah dan berbaring dibawah pohon yang rindang. Saat tengah berbaring, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda yang bergerak-gerak di sebatang dahan.

Ia segera bangkit, mendekati dan kemudian mengamati benda tersebut, yang ternyata adalah sebuah kepompong kupu-kupu.

Calon kupu-kupu yang berada dalam kepompong itu menggeliat berusaha keluar. Namun karena lubang pada kepompong terlalu kecil, membuat calon kupu-kupu itu kesulitan untuk keluar. Setelah sekian waktu mengeliat-geliat, kupu-kupu itu terdiam sejenak. Mungkin istirahat karena kecapaian.

kupu kupu

Anak kecil yang sedari tadi mengamati kejadian itu merasa iba melihatnya. Dengan tekat ingin menolong sang kupu-kupu, anak itu berlari kerumahnya dan mengambil gunting, kemudian kembali ke kepompong itu.

Dengan penuh kehati-hatian, sang anak membedah kepompong itu dengan guntingnya sehingga akhirnya kulit itu terbuka. Anak itu merasa lega. Namun dia merasa heran, karena kupu-kupu itu badannya kecil, dan sayapnya tidak bisa mengembang dengan sempurna.

Walau kupu-kupu itu berusaha berkali-kali, ia tetap tidak bisa mengepakkan sayapnya. Kupu-kupu itupun tak pernah bisa terbang.

***
Kesulitan yang datang, akan menempa kita menjadi sosok yang kuat menjalani kehidupan. Dari cerita di atas, sebenarnya kupu-kupu tersebut tengah dalam proses untuk menguatkan tubuh dan sayapnya. Namun karena datangnya bantuan, justru membuat proses tersebut terganggu dan membuat sang kupu-kupu menjadi lemah dan tak bisa terbang.

Demikian juga dengan manusia. Ketika kita sering menghadapi kesulitan dan cobaan hidup, dan kita berusaha untuk mencari jalan keluar dengan menggunakan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki, sesungguhnya itu berarti kita tengah menguatkan sayap-sayap kita untuk kuat terbang menuju kesuksesan.

Kemudahan dan kenyamanan dalam hidup menyebabkan kita menjadi statis, tidak memiliki variasi dalam hidup yang menyebabkan kemandekan untuk mengembangkan kreativitas dan penempaan mental.

Sesungguhnya kesulitan-kesulitan adalah obat mujarab agar kita tetap dinamis dan berkembang kreativitasnya. Orang-orang sukses adalah orang yang suka akan tantangan dan kesulitan, karena disitulah mereka menemukan semangat dan gairah hidup. Bahkan tak segan mereka sengaja membuat kesulitan-kesulitan ketika kondisi mereka sudah nyaman.

Kata Mutiara : Orang yang Selalu mengeluh ketika dihadapkan pada kesulitan dan permasalahan, serta selalu mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain dalam menghadapinya, akan menjadi manusia yang lemah, dan tak akan pernah menemukan kesuksesan sejati.



Cara Pandang Hidup dan Optimisme.

cara pandang hidup akan mempengaruhi masa depan seseorang. Karena cara pandang hidup inilah yang akan menjadi cara hidup. Dari cara hidup, akan menentukan cara bersikap. Dan dengan sikap, orang akan menemukan takdirnya. Tidak semua takdir telah tertulis, ada sebagian takdir yang dalam genggaman orang itu sendiri. Selamat membaca cerita motivasi di bawah ini
Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis, “Ooo… saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!” Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.
Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, “Ooo… ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak.” Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.
Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia. Ia berkata, “Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak.”
Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, “Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.”
Kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk KERJA.
Terima kasih anda telah membaca artikel Pandang Hidup dan Optimisme, Jika posting berjudul Pandang Hidup dan Optimisme merupakan artikel bermanfaat silahkan share atau berikan tanggapan anda pada kotak komentar di bawah. Sekali lagi terima kasih atas kesediaan anda membaca

Rindu Seorang Anak Terhadap Ayahnya


Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

“Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?”
“Tentu, ada apa?”
“Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?”
“Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah.
“Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon.
“Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.”


“Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”

Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”

Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.

Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya.
“Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak.
“Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”

Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.”

Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.

Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.

“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya.
“Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil.
“Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.”


Terkadang kita terlalu asyik dengan dunia kita sendiri tanpa mempedulikan orang2 di sekitar kita yg merindukan kita, membutuhkan kasih sayang kita, membutuhkan perhatian kita.

Si Kikir Dan Malaikat Maut

Setelah bekerja keras, berdagang dan menjadi rentenir, si kikir telah
menumpuk harta, hingga hartnya jika dihitung-hitung mencapai tiga ratus ribu dinar.
Ia memiliki tanah luas, beberapa gedung, dan segala macam harta benda.
Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun.
Hidup nyaman, dan kemudian menentukan tentang masa depannya.
Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang,

Malaikat Maut muncul
di hadapannya untuk mencabut nyawanya. Si kikir pun berusaha dengan segala
daya upaya agar Malaikat Maut itu tidak jadi menjalankan tugasnya. Si kikir
berkata, “Bantulah aku, barang tiga hari saja. Maka aku akan memberimu
sepertiga hartaku.”
Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir.
Kemudian si kikir memohon lagi, “Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari saja, akan
kuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku.”
Tetapi lagi-lagi Malaikat Maut pantang menyerah dan tak mau mendengarkannya. Bahkan ia
menolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinar dari si Kikir.
Akhirnya si kikir menulis berkata, “Kalau begitu, tolong beri aku waktu
untuk menulis sebentar.”
Kali ini Malaikat Maut mengijinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya
sendiri:
“Wahai manusia, manfaatkanlah hidupmu. Aku tidak dapat membelinya
dengan tiga ratus ribu dinar.
Pastikan engkau menyadari nilai dari waktu
yang engkau miliki.”